Wisata  

Jepang Overtourism: Warga Pusing Dibuat Kelakuan Turis

Jepang overtourism. (Foto: istimewa)

MINGGUPAGI.ID – Gelombang besar turis asing yang membanjiri Tokyo, Osaka, dan Kyoto telah mengubah pesona Negeri Sakura. Fenomena overtourism ini bukan hanya dikeluhkan oleh warga lokal Jepang, tetapi juga mulai mengganggu pengalaman sesama wisatawan. Dari gang sempit Kyoto hingga Shibuya Crossing, Jepang kini terasa seperti arena konten yang penuh sesak.

Penyebab Utama Keluhan: Etika Buruk dan Lonjakan Turis Asing

Warga lokal di berbagai wilayah, mulai dari kaki Gunung Fuji hingga jantung Tokyo, sering mengeluhkan tingkah polah turis asing. Pelanggaran etika umum, seperti menyetel musik keras di transportasi umum, selfie sembarangan yang membahayakan nyawa, dan membuang sampah sembarangan, kini menjadi pemandangan yang jamak.

Hanako Kakuta, seorang pemandu wisata dari Wakayama, menyebutkan lonjakan ini kemungkinan besar disebabkan oleh nilai tukar Yen yang sedang melemah, membuat Jepang menjadi destinasi yang lebih terjangkau.

Dampak dari overtourism ini meluas:

  • Transportasi Umum Penuh: Warga dewasa dan remaja harus berebut transportasi umum dengan wisatawan.
  • Pendidikan Terganggu: Anak-anak sekolah kini harus memindahkan lokasi study tour ke kota lain karena Kyoto sudah terlalu padat.
  • Pengalaman Buruk Turis: Turis asing sendiri menggambarkan berjalan di gang-gang sempit Kyoto saat musim ramai terasa seperti ikan sarden yang dipaksa melewati saringan. Bahkan, Shibuya Crossing yang ikonik kini sering kacau karena turis berlarian demi konten.

Survei Membuktikan: Turis Juga Tidak Nyaman dengan Kepadatan Jepang

Masalah overtourism ini bukan sekadar anekdot. Survei terbaru dari Bank Pembangunan Jepang menunjukkan bahwa turis asing pun merasa tidak nyaman dengan kepadatan di negeri sakura. Data dari Japan National Tourism Organization (JNTO) mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2025, jumlah pengunjung asing ke Jepang mencapai 24,9 juta orang.

Menariknya, survei tersebut juga menemukan bahwa lebih dari 60% responden menyatakan kesediaan untuk membayar biaya yang lebih tinggi di tempat wisata. Hal ini menunjukkan kesadaran bahwa solusi untuk mengatasi kepadatan dan melindungi warisan budaya Jepang memerlukan kontribusi finansial dari wisatawan. Dengan kesadaran ini, diharapkan Jepang dapat menemukan strategi berkelanjutan untuk mengelola lonjakan turis asing di masa depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *