MINGGUPAGI.ID – Bandung kini menyandang predikat sebagai kota paling macet di Indonesia menurut TomTom Traffic Index 2024. Rata-rata, perjalanan sejauh 10 km membutuhkan 32–33 menit, mengalahkan Jakarta yang ‘hanya’ sekitar 25 menit per 10 km. Gelar ini menjadi sinyal peringatan bagi warga dan pemerintah—mengapa Bandung bisa sampai sejauh ini?
Alasan Bandung Jadi Kota Termacet
Jumlah Kendaraan Meyakini Jumlah Penduduk
Data menunjukkan Bandung memiliki sekitar 2,36 juta kendaraan pribadi untuk populasi kurang lebih 2,58 juta orang, artinya hampir tiap warga memiliki kendaraan. Pertumbuhan kendaraan bahkan mencapai 10% per tahun, jauh melampaui kapasitas jalan yang statis.
Infrastruktur Jalan yang Tidak Bertambah Signifikan
Pemerintah sempat memperluas jalan dan bangun flyover (Pasupati, Kiaracondong, Antapani), tetapi masih jauh dari cukup. Sebagai kota pegunungan, Bandung tidak punya banyak ruang untuk pelebaran jalan—sehingga volume kendaraan tetap memenuhi jalan sempit.
Transportasi Umum yang Minim dan Tidak Terintegrasi
Hanya sekitar 13% penduduk Bandung yang menggunakan transportasi umum. Trayek angkot konvensional sering kalah cepat dibandingkan mobil dan ojek online karena belum terintegrasi, tidak fleksibel, dan lama. Warga pun lebih memilih kendaraan pribadi daripada angkutan publik yang “tidak praktis”.
Faktor Dinamis: Perbaikan Jalan dan Cuaca
Kesulitan jalan sering bertambah saat ada perbaikan jalan, cuaca buruk, atau insiden lalu lintas. Data floating-car dari TomTom menunjukkan bahwa faktor-faktor ini bisa menambah delay signifikan di tengah kepadatan arus.
Selisih Waktu Tempuh Saat Jam Sibuk
Perbedaan waktu perjalanan antara jam normal dan jam sibuk di Bandung cukup ekstrim—bisa naik dari 33 menit menjadi 75 menit per 10 km. Biaya waktu ini sangat tinggi, membuat produktivitas warga terkuras selama di jalan.
Dampak & Kendala Solusi
Warga Bandung kehilangan rata-rata 108 jam per tahun hanya karena kemacetan. Polri dan MTI menyoroti bahwa berbagai wacana solusi transportasi belum ditindaklanjuti secara konsisten—reformasi trayek angkot dan pembangunan BRT masih tertunda.
Solusi Terpadu yang Diperlukan
- Reformasi angkot menjadi “angkot cerdas” berbasis IoT dan sistem carter ala ojol, seperti yang disampaikan Wali Kota Farhan.
- Pembangunan BRT & peningkatan frekuensi angkutan umum, agar lebih kompetitif dibanding kendaraan pribadi.
- Penertiban parkir liar dan rekayasa lalu lintas, utamanya di kawasan protokol seperti Sukajadi dan Cipaganti.
Bandung bukan sekadar macet karena jumlah kendaraan yang meledak, tapi juga karena kesenjangan infrastruktur dan rendahnya penggunaan transportasi umum. Ditambah rutinitas perbaikan jalan dan tidak ada integrasi moda transportasi. Untuk keluar dari predikat kota paling macet, yang diperlukan bukan hanya wacana, tetapi eksekusi konsisten: angkot pintar, BRT, penataan lalu lintas, dan prioritas transportasi massal.











