MINGGUPAGI.ID – Para driver pariwisata Bali kini sedang ramai menolak merekomendasikan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park kepada turis. Protes ini bukan tanpa alasan. Seruan boikot ini berawal dari viralnya sebuah unggahan di media sosial yang menyoroti penutupan akses jalan warga lokal oleh manajemen GWK. Kejadian ini memicu kemarahan di kalangan komunitas driver, yang merasa empati terhadap penderitaan penduduk setempat.
Alasan Driver Pariwisata Boikot GWK: Kurangnya Empati Lokal
Salah satu komentar yang paling banyak diperbincangkan berasal dari akun Facebook @surya atmaja. Ia menyatakan, “Di Paguyuban Driver kami, sudah sepakat tidak lagi merekomendasikan ke sini (GWK), karena sedikitpun tidak ada empati kepada penduduk lokal yang akses rumah mereka di tembok.” Pernyataan ini menunjukkan betapa sensitifnya isu ini di mata para driver pariwisata.
Keputusan ini didukung oleh Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali (FPDPB), Made Darmayasa, yang menilai bahwa hak untuk merekomendasikan atau tidak berada di tangan masing-masing individu. Ia juga mengaitkan masalah ini dengan filosofi Bali, Tri Hita Karana, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan manusia.
Gubernur Bali, Wayan Koster, pun turut menanggapi masalah ini. Ia meminta manajemen GWK untuk segera membuka kembali tembok tersebut demi kelancaran aktivitas warga, termasuk anak sekolah dan pekerja. Menurut Koster, meskipun jalan itu aset perusahaan, tidak ada ruginya jika dikembalikan fungsinya untuk kepentingan masyarakat.
Gerakan boikot dari para driver pariwisata Bali ini menjadi bukti kuat bahwa etika bisnis dan kepedulian sosial sangat penting dalam industri pariwisata. Mereka tidak hanya berperan sebagai pemandu wisata, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai lokal.











