MINGGUPAGI.ID – Korea Selatan mengambil langkah tegas terkait keselamatan warganya di luar negeri. Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan travel warning darurat yang melarang warganya liburan ke Kamboja. Keputusan ini didukung penuh oleh Korean Air, yang langsung mengumumkan kebijakan pembatalan penerbangan gratis hingga akhir tahun. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya kekhawatiran global terkait gelombang penipuan daring (scamming) yang sering menargetkan warga Korea Selatan di Kamboja.
Tragedi Warga Korea dan Alasan Larangan Perjalanan ke Kamboja
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan telah menetapkan beberapa lokasi di Kamboja, termasuk Gunung Bokor, kota Bavet, dan Poipet, sebagai zona larangan perjalanan (travel warning). Larangan ini dikeluarkan menyusul laporan kasus mengerikan yang dialami warga Korea.
Sebelumnya, pemerintah telah memberikan peringatan karena korban utama penipuan daring ini adalah warga Korea Selatan. Salah satu kasus tragis melibatkan seorang mahasiswa Korea yang dibujuk dengan janji gaji tinggi untuk bekerja di pusat penipuan, namun ia meninggal karena dugaan penyiksaan oleh geng kriminal di Kamboja.
Menurut catatan AFP, sejak Januari hingga Agustus 2025, sebanyak 330 warga Korea Selatan dilaporkan hilang atau diculik setelah memasuki Kamboja.
Dampak pada Pariwisata dan Respon Maskapai Korean Air
Tingginya risiko ini berdampak langsung pada sektor pariwisata. Organisasi Pariwisata Korea melaporkan bahwa jumlah warga Korea Selatan yang mengunjungi Kamboja dalam tujuh bulan pertama tahun 2025 hanya mencapai 106.686 orang. Angka ini turun 9% dibandingkan tahun 2024.
Sebagai respons, Korean Air saat ini mengoperasikan penerbangan langsung harian dari Incheon menuju Takhmao, Kamboja. Maskapai tersebut memastikan penumpang yang ingin membatalkan perjalanan dibebaskan dari biaya. Korean Air juga memperketat protokol komunikasi darurat dan melakukan inspeksi keselamatan serta memberikan peringatan kepada staf dan awak lokal yang bertugas di Kamboja.











