Wisata  

Turis ke Jepang Membludak, Gaya Wisata Berubah Bukan untuk Belanja

Jepang overtourism. (Foto: istimewa)

MINGGUPAGI – Sektor pariwisata Jepang kembali mengukir sejarah pasca-pandemi. Negara ini mencatat lonjakan wisatawan ke Jepang 2025 yang sangat signifikan, mengisi setiap destinasi utama dengan kedatangan turis asing Jepang yang membludak. Di balik angka rekor tersebut, terjadi pergeseran menarik: perubahan pola pengeluaran turis dari fokus belanja ke pencarian pengalaman otentik.

Menurut data terbaru dari Badan Pariwisata Jepang (JTA) dan Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), rekor kedatangan telah terpecahkan bulan lalu. Untuk pertama kalinya, Jepang menerima lebih dari 3 juta wisatawan internasional dalam satu bulan, dengan total kedatangan mencapai 3.267.000 jiwa pada September 2025. Angka ini melonjak 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Secara kumulatif, selama sembilan bulan pertama tahun 2025, Jepang telah menyambut sekitar 31,65 juta turis asing. Laju kedatangan ini adalah yang tercepat sepanjang sejarah pariwisata Jepang dan melampaui angka 30 juta sebulan lebih awal dibanding tahun sebelumnya. Dengan tren positif ini, rekor kunjungan wisatawan Jepang dalam setahun (36,87 juta) diperkirakan tidak hanya terlampaui, tetapi tahun 2025 diprediksi akan menjadi tahun pertama yang menembus 40 juta kedatangan.

Fokus Pengeluaran Bergeser: Hotel Lebih Penting dari Belanja

Meskipun lonjakan wisatawan ke Jepang 2025 tak terbendung, statistik menunjukkan adanya perubahan pola pengeluaran turis yang menarik. Data JTA untuk periode Juli hingga September 2025 menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran turis asing Jepang per orang adalah 219.428 yen (sekitar US$1.480).

Namun, ada anomali dalam komponen pengeluaran tersebut. Pengeluaran untuk belanja per wisatawan mengalami penurunan 11,4 persen pada tahun 2025, menjadi 54.631 yen. Sebaliknya, pengeluaran untuk akomodasi atau hotel melonjak 7,9 persen pada periode yang sama, mencapai rata-rata 80.972 yen.

Mencari Pengalaman Unik Khas Jepang

Pergeseran ini mengindikasikan menurunnya minat turis asing untuk berbelanja di department store dan lebih memilih untuk berinvestasi pada pengalaman yang memperkaya. NHK World melaporkan bahwa wisatawan kini lebih tertarik pada kegiatan yang otentik dan unik, seperti workshop pembuatan sushi atau sesi latihan sumo, alih-alih membeli barang.

Faktor nilai tukar mata uang juga turut memperkuat tren ini. Penguatan Yen terhadap Dolar AS telah mengurangi insentif bagi turis asing untuk menganggap Jepang sebagai destinasi utama untuk berbelanja murah. Akibatnya, fokus mereka beralih sepenuhnya pada aspek budaya dan pengalaman, menguatkan tren positif dalam sektor pariwisata Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *