MINGGUPAGI.ID – Meskipun industri alat kesehatan dalam negeri Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan, fenomena pasien yang memilih berobat ke luar negeri masih tinggi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri bukanlah karena kualitas dasar, melainkan karena terbatasnya akses teknologi kesehatan inovatif dan efisiensi layanan kesehatan di Indonesia. Dirjen Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia, menegaskan bahwa kecepatan adopsi teknologi mutakhir menjadi tantangan terbesar yang membuat pasien mencari pengobatan di negara tetangga.
Akses Teknologi Kesehatan Inovatif yang Lambat
Menurut Kemenkes, alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri yang paling utama adalah kesulitan mendapatkan akses teknologi kesehatan inovatif, baik itu alat kesehatan maupun obat-obatan mutakhir.
Perlambatan ini berdampak langsung pada efisiensi layanan kesehatan di Indonesia. Contohnya, untuk tindakan seperti radioterapi, pasien di Indonesia sering harus mengantre berbulan-bulan, sementara di negara tetangga, prosesnya bisa jauh lebih cepat. Ketersediaan teknologi kesehatan mutakhir yang lambat ini secara otomatis mendorong pasien untuk mencari solusi pengobatan yang lebih cepat di luar negeri.
Kemajuan Pesat Industri Alat Kesehatan Dalam Negeri
Di sisi lain, Kemenkes mencatat bahwa industri alat kesehatan dalam negeri telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dan menggembirakan.
- Pertumbuhan Industri: Jumlah industri alat kesehatan lokal melonjak dua kali lipat, dari sekitar 400 industri sebelum pandemi COVID-19 menjadi sekitar 815 industri saat ini.
- Peningkatan Belanja: Belanja alat kesehatan buatan dalam negeri juga meningkat tajam, mencapai 3,4 kali lipat dibandingkan tahun 2019.
Untuk mendukung pertumbuhan ini, Kemenkes menerapkan strategi kebijakan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan freeze-unfreeze produk impor. Strategi ini efektif memaksa rumah sakit pemerintah untuk memprioritaskan produk buatan lokal, asalkan spesifikasi dan harga yang ditawarkan kompetitif.
Tantangan Efisiensi Layanan Kesehatan di Indonesia
Meskipun industri alat kesehatan dalam negeri menunjukkan kemandirian, tantangan terbesar untuk menahan pasien tetap berobat di dalam negeri adalah meningkatkan efisiensi dan kecepatan layanan kesehatan di Indonesia.
Kemenkes berupaya keras agar masyarakat bisa mendapatkan akses teknologi kesehatan inovatif secepat mungkin. Selain mendorong industri lokal, Kemenkes aktif menggelar business matching antara industri alkes lokal dan fasilitas kesehatan (faskes). Langkah ini penting agar rumah sakit mengetahui ketersediaan produk lokal (seperti hospital bed elektrik otomatis) dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Upaya Pemerintah Mengurangi Jumlah Pasien Berobat ke Luar Negeri
Kemenkes memastikan bahwa upaya pemerintah saat ini difokuskan pada perbaikan titik lemah, yaitu kecepatan adopsi teknologi inovatif. Tujuannya adalah memastikan pasien dapat berobat di Indonesia dengan kualitas yang sama seperti di negara lain.
Pertumbuhan pesat industri alat kesehatan dalam negeri adalah modal besar, tetapi persoalan akses, efisiensi layanan, dan kecepatan adopsi teknologi medis mutakhir masih harus dikejar. Tanpa perbaikan holistik di sisi ini, alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri akan terus relevan.
Alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri ternyata bukan lagi soal ketiadaan produk, melainkan terbatasnya akses teknologi kesehatan inovatif dan perlunya peningkatan efisiensi layanan kesehatan di Indonesia. Fokus pemerintah saat ini adalah menjembatani kesenjangan ini agar masyarakat dapat menikmati kualitas pengobatan terbaik di tanah air sendiri











