MINGGUPAGI.ID – Melihat kelas Pilates didominasi oleh kaum wanita adalah pemandangan yang sangat umum. Hal ini membuat banyak orang, terutama pria, merasa ragu atau malu untuk mencoba. Ada anggapan bahwa Pilates hanya untuk fleksibilitas dan membentuk tubuh ramping, yang seolah-olah hanya relevan bagi wanita.
Padahal, stigma ini salah besar dan justru membuat para pria kehilangan banyak manfaat luar biasa. Jadi, kenapa ya Pilates sering dianggap olahraga wanita, dan kenapa banyak pria merasa kesulitan saat pertama kali mencobanya? Yuk, kita bedah faktanya.
Mitos vs. Fakta: Siapa Pendiri Pilates?
Fakta menariknya, Pilates diciptakan oleh seorang pria bernama Joseph Pilates pada awal abad ke-20. Awalnya, metode ini dikembangkan untuk membantu prajurit yang terluka dan atlet untuk memulihkan diri, membangun kekuatan, serta fleksibilitas. Jadi, dari sejarahnya saja, Pilates sama sekali tidak diciptakan hanya untuk wanita.
Popularitasnya di kalangan wanita meningkat karena gerakan-gerakannya yang berfokus pada kelenturan dan postur tubuh, yang sangat disukai oleh para penari. Dari sinilah citra “olahraga wanita” mulai terbentuk dan bertahan hingga sekarang.
Kenapa Pria Merasa Sulit Melakukan Pilates?
Pilates memang sulit, terutama bagi pria, tapi bukan karena soal kekuatan. Alasannya justru ada pada hal-hal yang sering diabaikan dalam rutinitas olahraga pria.
- Kurangnya Fleksibilitas dan Mobilitas Banyak pria fokus pada latihan angkat beban (strength training) yang sering kali membuat otot-otot menjadi lebih kencang dan kaku, terutama di bagian hamstring (otot paha belakang) dan pinggul. Pilates justru menuntut fleksibilitas dan mobilitas tinggi untuk melakukan setiap gerakan dengan benar. Ketidakmampuan untuk melakukan peregangan ini membuat gerakan dasar pun terasa sangat sulit.
- Kekuatan Otot Inti yang Belum Optimal Inti dari Pilates adalah kekuatan otot inti (core strength), yang mencakup otot perut, punggung bawah, dan panggul. Berbeda dengan latihan angkat beban yang sering menargetkan otot luar (bisep, dada, paha), Pilates melatih otot-otot inti terdalam yang berfungsi untuk menstabilkan tubuh. Kurangnya kontrol pada otot-otot ini membuat tubuh pria sering gemetar atau tidak seimbang saat mencoba gerakan Pilates.
- Fokus pada Kontrol dan Kualitas, Bukan Kecepatan Gerakan Pilates tidak dilakukan dengan cepat atau kasar, melainkan perlahan dan penuh kontrol. Setiap gerakan harus disadari dan diatur dengan pernapasan yang tepat. Ini adalah pendekatan yang jarang ditemukan dalam rutinitas angkat beban pada umumnya, sehingga membuat pria terbiasa dengan gerakan cepat menjadi lebih tertantang.
Manfaat Pilates untuk Pria: Bukan Hanya Soal Lentur
Jangan salah, Pilates memberikan banyak manfaat spesifik untuk pria, yang bisa meningkatkan performa olahraga lainnya.
- Mencegah Cedera: Dengan memperkuat otot inti dan meningkatkan fleksibilitas, Pilates membantu menstabilkan sendi dan mengurangi risiko cedera, terutama saat melakukan angkat beban atau olahraga lain.
- Meningkatkan Performa Atletik: Otot inti yang kuat adalah fondasi untuk setiap gerakan atletik, baik itu lari, bersepeda, maupun olahraga tim. Pilates akan meningkatkan keseimbangan, kekuatan, dan daya tahan yang langsung berdampak pada performamu.
- Postur Tubuh Lebih Baik: Pilates melatih otot-otot yang bertanggung jawab untuk postur. Ini sangat berguna bagi pria yang sering duduk lama di depan komputer atau memiliki masalah nyeri punggung.
- Keseimbangan Otot: Pilates menyeimbangkan otot-otot yang sering tidak terlatih, menciptakan fisik yang kuat dan proporsional.
Pada akhirnya, Pilates adalah olahraga universal yang memberikan fondasi kesehatan menyeluruh bagi siapa pun, tanpa memandang gender. Berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru adalah langkah pertama menuju versi diri yang lebih kuat dan seimbang











