Sehat  

Kenapa saat Stress Nafsu Makan Tinggi? Ini Penyebabnya

ilustrasi makanan manis yang biasa dimakan saat stres. (Foto: canva ai)

MINGGUPAGI.ID – Sebagian orang akan melampiaskan rasa stressnya dengan cemilan. Makan makanan yang manis-manis, tinggi garam, dan lain sebagainya.

Tanpa sadar, biasanya nyemil saat stress memiliki porsi yang besar. Padahal makanan yang dikonsumsi tidak ada gizinya. Ujung-ujungnya biasanya menyesal di akhir.

Kenapa Sih Kita Gampang Terjebak Emotional Eating?

Ini bukan kamu doang, kok! Banyak banget Milenial dan Gen Z yang kejebak di siklus ini. Otak kita itu pintar banget nyari cara cepat buat ngerasa lebih baik. Dan makanan, apalagi yang manis, asin, atau berlemak, bisa kasih sensasi comfort dan kesenangan instan.

Begini penjelasannya simpelnya:

  • Hormon Stres (Kortisol): Pas kamu stres, tubuhmu ngeluarin hormon kortisol. Ini bikin nafsu makanmu, terutama yang manis-manis dan berlemak, naik. Auto pengen yang bikin happy!
  • Dopamin Instan: Makan makanan enak itu bikin otak ngeluarin dopamin, hormon happy. Jadi, kamu makan buat ngilangin rasa sedih, cemas, atau bosan, bukan karena lapar fisik.
  • Kebiasaan & Keterkaitan Emosi: Mungkin dari kecil, orang tua ngasih permen pas kamu nangis. Otakmu jadi ngaitin makanan sama rasa nyaman dan solusi masalah. Rewarding system yang salah kaprah!

Masalahnya, kesenangan itu cuma sebentar. Setelah habis makannya, emosi negatif (stres, sedih, bosan) itu balik lagi, malah ditambah sama perasaan bersalah karena udah makan berlebihan. Double attack!

Bedakan Lapar Beneran vs. Lapar Emosi

Oke, gimana cara bedainnya biar nggak auto nyemil tiap mood lagi anjlok?

  • Lapar Fisik: Datangnya pelan-pelan. Perut keroncongan. Bisa makan apa aja. Bakal kenyang setelah makan.
  • Lapar Emosi: Datangnya tiba-tiba dan mendesak. Pengen makan sesuatu yang spesifik banget (misal: “harus es krim cokelat!”). Nggak ada tanda fisik di perut. Setelah makan, mungkin ngerasa bersalah dan emosi aslinya nggak ilang.

Kalau kamu ngerasa lapar emosi, STOP sejenak!

Mengelola Emosi Tanpa Nyiksa Diri

Ini dia triknya, biar kamu bisa jadi ‘bos’ atas emosimu sendiri, bukan makanan:

  1. Kenali Pemicunya: Kapan kamu biasanya emotional eating? Pas deadline? Pas habis berantem? Pas lagi scroll medsos dan insecure? Mencatat pemicu ini di jurnal bisa sangat membantu.
  2. Jeda 10 Menit: Sebelum langsung nyambar cemilan, coba jeda 10 menit. Tanyain diri sendiri, “Ini aku lapar fisik atau emosi?”
  3. Cari Alternatif Selain Makanan: Nah, ini penting! Kalau memang bukan lapar fisik, alihkan perhatianmu ke aktivitas lain yang bisa bikin mood membaik:
    • Gerak: Jalan kaki sebentar, stretching, atau nge-dance lagu favorit.
    • Relaksasi: Tarik napas dalam-dalam, meditasi singkat, atau dengerin musik yang menenangkan.
    • Koneksi: Telepon teman, chat keluarga, atau peluk hewan peliharaanmu.
    • Hobi: Baca buku, nonton serial, dengerin podcast, atau kerjain passion project-mu.
    • Minum Air: Kadang, tubuh kita cuma haus, bukan lapar.
  4. Siapkan “Cemilan Penyelamat”: Kalau memang nggak bisa ditahan, siapkan snack yang lebih sehat. Buah-buahan, yoghurt, nuts, dark chocolate (pilih yang tinggi kakao), atau sayuran renyah. Ini lebih baik daripada makanan tinggi gula/lemak yang bikin nyesel.
  5. Jangan Nyiksa Diri (No Guilty Pleasure!): Kalau sesekali kebablasan? Jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Akui, pelajari, dan lanjutkan hidup. It’s okay to have bad days. Yang penting, kamu bangkit lagi dan coba terapkan strategimu.

Mengelola emotional eating itu perjalanan, bukan balapan. Butuh kesabaran dan latihan. Ingat, kamu layak merasa baik tanpa harus bergantung pada makanan. Belajar mengelola emosi dengan cara yang sehat itu adalah investasi terbaik untuk dirimu sendiri, baik fisik maupun mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *