Mukbang: Sensasi Makan Jumbo, Hiburan atau Bahaya?

Ilustrasi mukbang. (Foto: canva)

MINGGUPAGI.ID – Siapa yang tidak kenal istilah mukbang? Tren video yang menampilkan seseorang makan dalam porsi super besar ini telah merajai platform media sosial seperti YouTube dan TikTok. Jutaan orang dari seluruh dunia gemar menontonnya, entah karena penasaran, terhibur, atau bahkan merasa ‘ditemani’ saat makan. Tapi, di balik popularitasnya, fenomena mukbang juga menyimpan perdebatan: apakah ini sekadar hiburan atau justru menyimpan bahaya tersembunyi?

Mukbang sebagai Bentuk Hiburan yang Menarik

Bagi banyak penonton, mukbang menawarkan pengalaman yang unik. Video-video ini sering kali dikemas dengan visual yang memanjakan mata, suara yang renyah (ASMR), dan ekspresi mukbanger yang penuh kenikmatan.

1. Hiburan dan Kepuasan Visual: Mukbang sering disebut sebagai “makanan pengganti”. Bagi mereka yang sedang diet atau tidak bisa menikmati makanan tertentu, menonton mukbang bisa memberikan kepuasan visual. Ada sensasi yang berbeda saat melihat makanan favorit disantap dengan lahap.

2. Efek ASMR yang Menenangkan: Banyak mukbanger memanfaatkan efek suara ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response), seperti suara kunyahan, seruputan, atau renyahan kerupuk. Suara-suara ini bisa memberikan sensasi relaksasi dan ketenangan bagi sebagian penonton.

3. Rasa “Ditemani” saat Makan: Bagi sebagian orang, terutama yang tinggal sendiri, menonton mukbang bisa memberikan rasa kebersamaan. Mereka merasa seolah-olah sedang makan bersama mukbanger favoritnya. Ini menjadi semacam “teman virtual” yang menemani kesepian.

Bahaya yang Mengintai di Balik Layar

Meskipun terlihat menyenangkan, para ahli kesehatan mulai menyuarakan kekhawatiran terkait tren ini. Mukbang bisa menjadi pedang bermata dua, apalagi jika dikonsumsi secara berlebihan atau tanpa pemahaman yang tepat.

1. Memicu Pola Makan yang Tidak Sehat: Video mukbang menampilkan porsi makanan yang tidak wajar. Hal ini bisa mempengaruhi persepsi penonton tentang porsi normal dan memicu perilaku makan berlebihan. Secara tidak sadar, penonton bisa meniru kebiasaan ini, yang berisiko menyebabkan obesitas dan masalah kesehatan lainnya.

2. Potensi Gangguan Makan: Bagi sebagian orang, menonton mukbang bisa memicu atau memperburuk gangguan makan seperti binge eating disorder (makan berlebihan kompulsif). Mereka yang memiliki riwayat gangguan makan bisa terpicu untuk mengikuti pola makan yang terekspos dalam video.

3. Risiko Kesehatan bagi Pelaku Mukbang: Para mukbanger itu sendiri berhadapan dengan risiko kesehatan yang serius. Mengonsumsi kalori dalam jumlah besar secara teratur dapat merusak sistem pencernaan, meningkatkan risiko penyakit jantung, dan diabetes.

4. Keberlanjutan dan Eksploitasi Diri: Tren mukbang menuntut para content creator untuk terus berinovasi, sering kali dengan mengonsumsi makanan yang lebih ekstrem atau dalam porsi yang lebih besar. Hal ini bisa menjadi siklus yang tidak sehat dan mengancam kesehatan mereka sendiri demi konten.

Mukbang adalah fenomena budaya digital yang menarik, menawarkan hiburan dan kepuasan bagi banyak orang. Namun, penting untuk melihatnya dengan kacamata yang seimbang. Alih-alih hanya terpaku pada sisi hiburannya, kita juga harus menyadari potensi risiko dan bahaya yang menyertainya, baik bagi penonton maupun pelakunya.

Terkadang, kesadaran adalah langkah pertama untuk membuat keputusan yang lebih sehat. Jadi, apakah kamu termasuk tim yang suka menonton mukbang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *