Ahli Gizi Tak Sarankan Diet Hanya Makan Buah, Kenapa?

Ilustrasi buah-buahan. (Foto: istimewa)

MINGGUPAGI.ID – Berita duka baru-baru ini dari Bali telah menggemparkan publik. Seorang wanita asal Polandia dilaporkan meninggal setelah lama menjalani diet hanya makan buah atau fruitarian, dengan berat badan (BB) yang menyusut drastis hingga mencapai 22 kg. Kejadian tragis ini bukan hanya sebuah kasus, melainkan peringatan keras. Apakah diet buah sehat dan aman? Meskipun buah-buahan kaya akan khasiat, mengikuti diet buah secara ekstrem dan rutin, tanpa asupan nutrisi lain, dapat membawa konsekuensi kesehatan fatal. Kasus BB ekstrem ini, ditambah dengan pengalaman Ashton Kutcher yang sempat sakit karena fruitarian, menjadi alarm bagi siapa pun yang tertarik pada gaya hidup diet hanya makan buah.

Risiko Kesehatan Fatal di Balik Diet Buah yang Terlalu Ketat

Meskipun diet buah menjanjikan “pembersihan” atau detoksifikasi tubuh, para ahli gizi memperingatkan bahwa manfaat tersebut dapat berbalik menjadi ancaman serius. Tubuh manusia memerlukan beragam nutrisi, dan diet hanya makan buah gagal memenuhi kebutuhan dasar tersebut.

Tragedi BB Ekstrem (22 Kg) dan Kekurangan Nutrisi Utama

Kasus kematian wanita di Bali yang memiliki BB hanya 22 kg adalah contoh nyata bahaya diet ekstrem ini. Tubuhnya kekurangan nutrisi utama, terutama protein dan lemak, hingga mengalami malnutrisi parah.

  • Protein adalah blok bangunan untuk otot, kulit, dan organ. Tanpa protein yang cukup, tubuh mulai menghancurkan dirinya sendiri.
  • Lemak penting untuk fungsi otak dan hormon. Mengikuti risiko diet buah ekstrem berarti mempertaruhkan fungsi-fungsi vital ini demi penurunan BB drastis yang tidak sehat.

Beban Berat pada Pankreas Akibat Gula Alami

Kasus Ashton Kutcher yang mengalami masalah pankreas saat mendalami peran Steve Jobs (yang juga dikenal sebagai penganut fruitarian) memberikan pelajaran penting. Buah memang kaya gula alami (fruktosa).

Pankreas bertugas melepaskan insulin untuk mengontrol kadar gula ini. Menurut ahli, pankreas dapat menjadi terlalu banyak bekerja jika dibanjiri gula dari diet buah ekstrem. Meskipun belum ada bukti medis yang mengaitkan langsung, tekanan pada organ ini tentu menjadi risiko diet buah yang patut diwaspadai.

Dampak Jangka Panjang Lain dari Gaya Hidup Fruitarian

Selain malnutrisi yang menyebabkan BB ekstrem, ada beberapa masalah kesehatan lain yang dapat timbul akibat diet buah yang ketat:

1. Ancaman Diabetes dan Gula Darah Tidak Terkontrol

Untuk orang dengan pradiabetes atau diabetes, diet buah sangat berbahaya. Kandungan gula yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Ini juga berdampak buruk bagi mereka yang memiliki gangguan ginjal atau pankreas.

2. Kerusakan Gigi dan Erosi Enamel

Tingginya kadar gula dan keasaman pada beberapa jenis buah dapat memicu kerusakan gigi. Asam tersebut berpotensi mengikis enamel gigi, membuat gigi lebih rentan.

3. Kekurangan Nutrisi Mikro dan Osteoporosis

Diet hanya makan buah sangat rendah dalam nutrisi mikro penting seperti vitamin B12, kalsium, vitamin D, yodium, dan asam lemak omega-3. Kekurangan ini memicu anemia, kelelahan, dan disfungsi sistem imun. Kekurangan kalsium jangka panjang meningkatkan risiko diet buah berupa osteoporosis.

4. Perlambatan Metabolisme dan Mode Kelaparan

Hanya mengandalkan buah-buahan saja dapat membuat tubuh masuk ke dalam mode kelaparan. Sebagai upaya menghemat energi, tubuh akan memperlambat metabolisme. Meskipun terjadi penurunan berat badan awal, efeknya seringkali hanya sementara dan berat badan akan kembali naik setelah diet fruitarian dihentikan.

Kasus tragis wanita di Bali dengan BB 22 kg adalah pengingat keras bahwa diet hanya makan buah adalah diet ekstrem yang berbahaya. Buah-buahan adalah bagian penting dari diet seimbang, tetapi bukan satu-satunya. Selalu konsultasikan dengan ahli gizi sebelum memulai diet buah yang ketat untuk menghindari risiko diet buah fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *