MINGGUPAGI.ID – Istilah “cinta itu buta” sepertinya benar-benar terjadi pada kasus yang satu ini. Jagat maya sedang dihebohkan oleh kisah seorang pria makan mie instan demi pacar yang gaya hidupnya selangit. Saking “bucin”-nya, pria yang berprofesi sebagai insinyur ini rela hidup serba kekurangan dan mengorbankan gajinya hanya untuk memuaskan keinginan sang kekasih yang hedon.
Kisah viral ini pertama kali terungkap lewat curhatan saudara kandung si pria di Facebook. Sang kakak merasa miris melihat adiknya terjebak dalam hubungan yang sangat toxic dan merugikan, baik secara mental maupun finansial.
Gaji Insinyur, Menu Anak Kos
Melansir dari Weird Kaya (12/1), meskipun memiliki pekerjaan mapan sebagai insinyur, dompet pria asal Malaysia ini selalu tipis. Seluruh penghasilannya dialokasikan untuk menuruti permintaan pacarnya yang ia kenal lewat game online.
Akibatnya, untuk bertahan hidup sehari-hari, ia hanya mampu membeli makanan murah meriah. Menu andalannya hanyalah roti, biskuit, dan mie instan. Sangat kontras dengan gaya hidup mewah yang ia berikan kepada pacarnya.
Manipulasi Atas Nama Cinta
Sang pacar, yang diketahui bekerja di bidang penjualan (sales), dituding sangat manipulatif. Setiap kali si pria mencoba membahas masalah keuangan atau pengeluaran yang membengkak, wanita tersebut langsung melancarkan serangan emosional.
“Kalau kamu mencintaiku, jangan bicarakan tentang uang,” begitu dalih sang wanita. Tak hanya itu, meski penampilannya biasa saja, wanita tersebut kerap membual bahwa dirinya dikejar banyak pria kaya, termasuk anak bosnya, demi membuat si insinyur merasa takut kehilangan.
Orang Tua Lansia Ikut Jadi Korban
Bagian paling menyedihkan dari kisah pria makan mie instan demi pacar ini adalah dampaknya pada orang tua. Melihat anaknya kesulitan finansial, orang tua si pria yang sudah sepuh bahkan merelakan uang tabungan pensiun mereka. Ayahnya yang hampir berusia 70 tahun terpaksa terus bekerja demi menyokong hidup anaknya.
Ironisnya, si pria justru lebih loyal membelikan barang-barang mewah untuk keluarga pacarnya daripada berbakti pada orang tuanya sendiri. Ia bahkan mengaku tidak punya waktu untuk menjenguk orang tuanya, hingga ayah ibunya lah yang harus rela naik bus jauh-jauh ke Kuala Lumpur untuk bertemu.
Puncak kekesalan keluarga terjadi saat mereka mencoba menasihati si pria. Alih-alih sadar, ia justru melontarkan kalimat yang menyayat hati: “Saya bisa hidup tanpa orang tua saya, tetapi tidak bisa hidup tanpa pacar saya.”
Kisah ini menjadi peringatan keras bagi netizen agar tidak terjebak dalam hubungan yang merusak logika dan menyengsarakan keluarga sendiri.











