MingguPagi.id – Dalam sebuah pemaparan mendalam mengenai hikmah ke-71 dari kitab Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan pentingnya setiap individu untuk memiliki teladan spiritual dalam hidup. Salah satu kelompok yang ditekankan untuk diteladani adalah kelompok zahid dan abid. Menurut M. Nur Kholis Setiawan, kelompok ini merupakan orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk berkhidmat atau melayani-Nya melalui ketaatan yang bersifat lahiriah, sehingga mereka dipandang pantas untuk menghuni surga-Nya.
Memantaskan diri menjadi bagian dari kelompok zahid bukan sekadar tentang keinginan, melainkan tentang bagaimana seorang hamba menata aktivitas harian agar selaras dengan ketetapan Allah. M. Nur Kholis Setiawan menyebutkan bahwa langkah awal untuk masuk ke dalam kelompok ini adalah dengan memperbanyak ketaatan fisik secara konsisten.
Fondasi Ibadah Fisik dan Kedisiplinan
Langkah utama dalam memantaskan diri menjadi kelompok zahid adalah dengan menyibukkan anggota badan dalam berbagai bentuk pengabdian. Aktivitas ini mencakup ibadah mahdhah maupun sosial. M. Nur Kholis Setiawan merinci bahwa kelompok ini didominasi oleh mereka yang rajin menjalankan kewajiban dan sunah secara lahiriah.
“Kelompok yang pertama disebut dengan Zahid dan Abid yakni orang-orang yang memang posisinya adalah mereka-mereka yang senantiasa taat kepada Allah, senantiasa mengabdi kepada Allah, dan bentuk pengabdiannya lebih banyak dilakukan dengan aktivitas-aktivitas fisik,” ujar M. Nur Kholis Setiawan dalam penjelasannya.
Aktivitas fisik yang dimaksud meliputi pelaksanaan salat, puasa, serta rutinitas wirid dan zikir. Kedisiplinan dalam menjalankan ritual-ritual ini merupakan bentuk pengejawantahan dari niat untuk melayani Allah. Dengan memperkuat ibadah-ibadah yang bersifat fisikal, seorang hamba sedang memproses dirinya agar layak mendapatkan kemuliaan abadi di surga.
Membangun Empati dan Dimensi Sosial
Selain aspek ritual, M. Nur Kholis Setiawan juga menekankan bahwa memantaskan diri masuk ke kelompok zahid harus disertai dengan aksi nyata di tengah masyarakat. Pengabdian kepada Allah tidak hanya terbatas di atas sajadah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama manusia.
“M. Nur Kholis Setiawan menambahkan bahwa aktivitas kelompok ini juga mencakup sedekah ataupun aktivitas-aktivitas sosial yang lain, empati-empati sosial atau kegiatan-kegiatan yang berdimensi sosial”.
Hal ini menunjukkan bahwa menjadi seorang zahid dan abid menuntut keseimbangan antara hubungan dengan Sang Pencipta (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Kepedulian sosial dianggap sebagai bagian integral dari khidmat atau pelayanan kepada Allah yang dilakukan dengan anggota badan atau bil jawari.
Konsistensi dalam Ikhtiar dan Doa
Dalam proses memantaskan diri, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa semuanya kembali pada upaya individu untuk terus memperbaiki kualitas diri. Tidak ada hasil yang instan dalam perjalanan spiritual. Seseorang harus membiasakan diri menjadi pribadi yang baik dan terus-menerus menempuh jalan perbaikan.
“Bagaimana kita memungkinkan diri memantaskan diri dan berusaha semaksimal mungkin untuk paling tidak meniru level yang pertama yakni azzahid dan Abid yang betul-betul pantas di surganya Allah subhanahu wa taala,” tegas M. Nur Kholis Setiawan sebagai pesan motivasi bagi para pencari kebenaran.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, keberhasilan untuk masuk ke dalam kelompok ini sangat tergantung pada dua hal utama, yakni ikhtiar yang sungguh-sungguh dan doa yang tidak pernah putus. Melalui perpaduan keduanya, seorang hamba memohon agar Allah menganugerahkan kekuatan untuk tetap istikamah dalam jalur ketaatan.
Menghargai Hak Prerogatif Allah
Meskipun setiap orang didorong untuk berikhtiar, M. Nur Kholis Setiawan juga mengingatkan agar manusia tetap rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. Penempatan seseorang dalam kelompok zahid atau bahkan kelompok arif adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah. Kadang kala, Allah menyibukkan seseorang dengan ibadah lahiriah karena Allah mengetahui bahwa hamba tersebut mungkin belum kuat memikul beban spiritual yang lebih berat sebagai seorang waliullah.
Dengan memahami bahwa setiap posisi adalah anugerah, fokus utama seorang hamba menurut M. Nur Kholis Setiawan adalah terus bergerak maju meningkatkan kualitas pengabdiannya. Upaya untuk meniru teladan para zahid merupakan langkah konkret bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang paling memungkinkan bagi kapasitas fisiknya.









